MERAIH KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

Makna “Ya ayyuhalladzina amanu” dan keutamaan Ramadhan: cara menyiapkan hati, bertaubat, dan fokus beramal.
Ilustrasi Ramadhan

Ramadhan datang setiap tahun bukan sekadar sebagai pengingat kewajiban berpuasa. Ia hadir sebagai ruang perenungan. Sebuah kesempatan untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: sejauh mana kita menanggapi panggilan Allah ﷻ ? Seberapa serius kita ingin benar-benar mendekat?

Tulisan ini adalah renungan tentang bagaimana kita menyikapi panggilan tersebut. Tentang upaya mendekat. Tentang kesungguhan beramal. Dan tentang harapan agar Ramadhan benar-benar menjadi titik balik, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Perumpamaan Ramadhan

Dalam satu tahun ada dua belas bulan. Namun di antara semuanya, ada satu bulan yang begitu istimewa: Ramadhan. Para ulama mengibaratkannya dengan perumpamaan yang indah. Ibn al-Jauziy رحمه الله berkata:

قبل الشُّهُور الإثني عشر كَمثل أَوْلَاد يَعْقُوب عَلَيْهِ وَعَلَيْهِم السَّلَام وَشهر رَمَضَان بَين الشُّهُور كيوسف بَين إخْوَته فَكَمَا أَن يُوسُف أحب الْأَوْلَاد إِلَى يَعْقُوب كَذَلِك رَمَضَان أحب الشُّهُور إِلَى علام الغيوب
“Dua belas bulan itu seperti anak-anak Nabi Ya‘qub. Dan Ramadhan di antara bulan-bulan itu seperti Nabi Yusuf di antara saudara-saudaranya. Sebagaimana Yusuf adalah anak yang paling dicintai oleh Ya‘qub, maka Ramadhan adalah bulan yang paling dicintai oleh Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib1.”

Perumpamaan ini menggambarkan betapa Ramadhan memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah ﷻ.

Ramadhan: Bulan Al-Qur’an dan Ampunan

Allah ﷻ menyebutkan kemuliaan Ramadhan dalam Al-Qur'an:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (al-Baqarah: 185)

Di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan. Bulan ini adalah bulan hidayah, bulan cahaya, bulan pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Bukan hanya itu, Ramadhan juga bulan ampunan. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu2.”

Menjelaskan makna ini, Ibn al-Jauziy رحمه الله mengaitkannya dengan kisah Nabi Yusuf. Ketika Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya:

{لَا تَثْرِيب عَلَيْكُم الْيَوْم}

“Pada hari ini tidak ada celaan atas kalian.” (Yusuf: 92)

Sebagaimana Yusuf menenggelamkan kesalahan saudara-saudaranya dengan pemaafan, demikian pula Ramadhan menenggelamkan dosa-dosa serta beban kesalahan yang telah diperbuat3 hamba dengan rahmat, keberkahan, pembebasan dari neraka, dan ampunan dari Allah Yang Maha Perkasa.

Menjawab Panggilan Iman di Bulan Ramadhan

Kita memasuki Ramadhan dengan banyak kekurangan. Dosa menumpuk, lalai berulang, amal tak maksimal. Namun Allah ﷻ tetap memanggil kita dengan panggilan yang lembut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

Menariknya, lafaz panggilan “يا” dalam bahasa Arab pada asalnya digunakan untuk memanggil sesuatu yang jauh atau seperti sesuatu yang jauh (نداء البعيد أو كالبعيد). Namun dalam ayat ini penggunaannya bersifat majazi (استعمال مجازي), bukan makna hakiki. Ia menjadi نداء التشريف والتكريم — seruan pemuliaan dan penghormatan.

Allah ﷻ tidak berfirman “Wahai manusia…”, tetapi “Wahai orang-orang yang beriman…”. Artinya, Allah ﷻ memanggil kita dengan sifat yang Dia cintai pada diri kita: iman. Di balik panggilan ini ada pesan besar: iman menuntut konsekuensi. Jika kita mengaku beriman, maka kita siap menjalankan perintah-Nya.

Sebagian ulama menjelaskan:

أنه جيء بالنداء والخطاب جبرا لكلفة المشقة بلذة المخاطبة

Bahwa seruan dan sapaan itu didatangkan untuk menghibur dan meringankan beratnya beban kewajiban dengan manisnya panggilan tersebut4.”

Puasa memang berat. Tetapi panggilan Allah ﷻ membuatnya terasa mulia dan mendatangkan kebahagiaan. Respon kita terhadap panggilan Allah ﷻ ini adalah langkah nyata untuk mendekat kepada-Nya. Seberapa serius kita menyambut dan menjalankannya, sejauh itu pula kedekatan yang kita bangun dengan Allah ﷻ.

Semakin sungguh-sungguh kita beramal di bulan Ramadhan, semakin erat hubungan kita dengan-Nya. Dan semakin dekat kita kepada Allah ﷻ, semakin layak pula kita meraih limpahan kebaikan, ampunan, dan keberkahan yang Dia siapkan di bulan yang mulia ini.

Ibnu al-Jauziy menjelaskan:

كَذَلِك شهر رَمَضَان وَاحِد والشهور أحد عشر وَفِي أَعمالنَا خلل وَأي خلل وتقصير وَأي تَقْصِير وتفريط فِي طَاعَة الْعَلِيم الْخَبِير

“Demikian pula Ramadan: ia satu bulan, sementara bulan-bulan lainnya ada sebelas. Dalam amal-amal kita terdapat begitu banyak kekurangan—betapa besar kekurangan itu!—dan kelalaian dalam menaati Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."

وَنحن نرجو أَن نتلافى فِي شهر رَمَضَان مَا فرطنا فِيهِ فِي سَائِر الشُّهُور ونصلح فِيهِ فَاسد الْأُمُور ويختمه علينا بالفرح وَالسُّرُور ونعتصم فِيهِ بِحَبل الْملك الغفور

"Kita berharap di bulan Ramadan dapat memperbaiki kelalaian kita pada bulan-bulan lainnya, memperbaiki berbagai kerusakan dalam urusan kita, dan agar Allah menutupnya bagi kita dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Kita berpegang teguh di dalamnya pada tali Sang Raja Yang Maha Pengampun5.”

Bekal Meraih Keistimewaan Ramadhan

Agar kita benar-benar meraih keistimewaan Ramadhan, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan:

  1. 🔥 Menghidupkan hati dengan nuansa iman dan senantiasa mencari ridho Allah ﷻ semata.

    Bergembira dengan datangnya Ramadhan, bahagia atas kesempatan yang Allah ﷻ berikan untuk mengisi waktu di Ramadhan. Menjaga yang wajib dan hiasi diri dengan sunnah. Jika belum mampu banyak, maka sedikit tapi konsisten lebih cintai Allah ﷻ. Nabi ﷺ bersabda

    أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
    “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit6.”
  2. 🤲 Taubat dari Dosa

    Dosa dapat menghalangi seseorang dari kedekatan kepada Allah ﷻ dan membuat hati berat melakukan ketaatan.

    لأن الله يحرم الإنسان القربة بذنب أصابه

    “Allah bisa menghalangi seseorang dari kedekatan kepada-Nya karena dosa yang ia lakukan7.”

    Taubat yang sungguh-sungguh akan melapangkan hati dan menguatkan badan untuk beribadah.

  3. 🎯 Menguatkan Tekad dan Fokus

    Susun agenda ibadah. Kurangi distraksi. Tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

    مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
    “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya8.”

Ramadhan: Titik Balik atau Sekadar Berlalu?

Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang lalu berlalu. Ia adalah kesempatan emas. Satu bulan untuk menutup kekurangan sebelas bulan. Satu bulan untuk membersihkan dosa setahun. Satu bulan untuk mendekat lebih dekat kepada Allah ﷻ.

Jika Yusuf à mampu menghapus kesalahan saudara-saudaranya dengan satu kalimat pemaafan, maka Ramadhan mampu menghapus dosa-dosa kita dengan rahmat Allah ﷻ yang luas.

Kini pertanyaannya: apakah kita akan menyia-nyiakannya, atau menjadikannya titik balik kehidupan?

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang benar-benar meraih keistimewaan Ramadhan, diampuni dosa-dosanya, diterima amalnya, dan ditutup hidupnya dengan kebahagiaan dan husnul khatimah. Aamiin.

[Hafid Abdul Qadir]

Referensi

  1. Ibn al-Jauziy, Bustan al-Wa’izhin Wa Riyadh as-Sami’in, Mu’assasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, Beirut, hal. 230
  2. Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, Kitab al-Iman, jilid 1 hal. 17 nomor 38
  3. Ibn al-Jauziy, Bustan al-Wa’izhin Wa Riyadh as-Sami’in, Mu’assasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, Beirut, hal. 231
  4. Ishomuddin Ismail, Hasyiyah al-Qunawiy ‘ala Tafsir al-Imam al-Baidhawiy , Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, jilid 5 hal. 3
  5. Ibn al-Jauziy, Bustan al-Wa’izhin Wa Riyadh as-Sami’in, Mu’assasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, Beirut, hal. 231
  6. Hr. Muslim, Shahih Muslim, Kitab Sholatul Musafirin, jilid 2 hal. 189 nomor 783
  7. ‘Ali al-‘Adawiy, Hasyiyah al-‘Adawiy al-Malikiy’ ‘Ala al-Kharasyiy, jilid 3 hal. 46
  8. Hr. at-Tirmidziy, Sunan at-Tirmidziy, Abwab az-Zuhd, jilid 4 hal. 148 nomor 2317