DIAWALI DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH تعالى

Penjelasan adab memulai amal dengan basmalah berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan ulama, sebagai kunci keberkahan ilmu dan amal.
Dalam tradisi keilmuan Islam, adab menghiasi ilmu. Salah satu adab paling mendasar yang diwariskan oleh Al-Qur’an, Nabi ﷺ, dan para ulama ialah memulai setiap urusan penting dengan menyebut nama Allah Ta‘ala melalui lafazh basmalah.

Tidak setiap perkara yang tampak sempurna secara lahiriah benar-benar sempurna dalam maknanya. Karena itu, Islam mengajarkan sebuah adab agung: memulai setiap amal, ilmu, dan tulisan dengan menyebut nama Allah تعالى, agar keberkahan dan kesempurnaan maknawi menyertainya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Dalam buku adab pelajar berjudul نظم المطلب yang ada pada kami diawali dengan basmallah. Memulai dengan basmallah memiliki beberapa alasan:

1. Mengikuti Susunan al-Qur'an al-Karim

Alasan yang pertama ialah إِقتِدَاءً بِالْقُرآنِ الْكَرِيْم "mengikuti susunan al-Qur'an al-Karim". Surah al-Fatihah ialah surah pertama dalam susunan mushhaf al-Qur’an, dan ayat pertamanya ialah بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . Allah تعالى berfirman:

وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۙ

"(Al-Qur’an) ini adalah Kitab yang Kami turunkan lagi diberkahi. Maka, ikutilah dan bertakwalah agar kamu dirahmati." (al-An’am: 155)

Tentang ayat yang mulia ini, Muhammad Thahir bin ‘Asyur menjelaskan1:

وَافْتِتَاحُ الْجُمْلَةِ بِاسْمِ الْإِشَارَةِ ، وَبِنَاءُ الْفِعْلِ عَلَيْهِ ، وَجَعْلُ الْكِتَابِ الَّذِي حَقُّهُ أَنْ يَكُونَ مَفْعُولَ " أَنْزَلْنَاهُ " ، مُبْتَدَأً ، كُلُّ ذَلِكَ لِلِاهْتِمَامِ بِالْكِتَابِ وَالتَّنْوِيهِ بِهِ

“Pembukaan kalimat dengan isim isyarah (kata tunjuk “ini”), penautan perbuatan (fi‘il) kepadanya, serta menjadikan lafazh “Kitab” — yang seharusnya secara asal menjadi objek dari kata “Kami menurunkannya” — sebagai mubtada’, semuanya itu bertujuan untuk ihtimam (memberi perhatian khusus) kepada Kitab tersebut dan menegaskan keagungannya”

وَتَفْرِيعُ الْأَمْرِ بِاتِّبَاعِهِ عَلَى كَوْنِهِ مُنَزَّلًا مِنَ اللَّهِ ، وَكَوْنِهِ مُبَارَكًا ، ظَاهِرٌ ؛ لِأَنَّ مَا كَانَ كَذَلِكَ لَا يَتَرَدَّدُ أَحَدٌ فِي اتِّبَاعِهِ .

“Pengaitan perintah untuk mengikutinya dengan fakta bahwa kitab ini diturunkan dari Allah dan bahwa ia penuh berkah, sangat jelas; sebab sesuatu yang demikian itu tidak akan diragukan oleh siapa pun untuk diikuti.”

dan Atsir ad-Din Abu Abdillah al-Andalusiy menjelaskan2:

وَبرْكَةُ الْقُرْآنِ بِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مِنَ النَّفْعِ وَالنَّمَاءِ بِجَمْعِ كَلِمَةِ الْعَرَبِ بِهِ ، وَالْمَوَاعِظِ وَالْحِكَمِ ، وَالْإِعْلَامِ بِأَخْبَارِ الْأُمَمِ السَّالِفَةِ وَالْأُجُورِ التَّالِيَةِ ، وَالشِّفَاءِ مِنَ الْأَدْوَاءِ ، وَالشَّفَاعَةِ لِقَارِئِهِ ، وَعَدِّهِ مِنْ أَهْلِ اللَّهِ ، وَكَوْنِهِ مَعَ الْمُكْرَمِينَ مِنَ الْمَلَائِكَةِ ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْبَرَكَاتِ الَّتِي لَا تُحْصَى

“Keberkahan Al-Qur’an tampak dari berbagai manfaat dan bertambahnya kebaikan yang lahir darinya: menyatukan umat Arab, kandungannya berupa pelajaran dan hikmah, kabar tentang umat terdahulu, pahala di masa mendatang, menjadi penyembuh dari berbagai penyakit, memberi syafaat kepada pembacanya, menjadikan pembacanya termasuk golongan ahli Allah, serta kebersamaannya dengan para malaikat yang dimuliakan, dan berbagai keberkahan lain yang tak terhitung jumlahnya.”

ثُمَّ أَمَرَ اللَّهُ - تَعَالَى - بِاتِّبَاعِهِ وَهُوَ الْعَمَلُ بِمَا فِيهِ وَالِانْتِهَاءُ إِلَى مَا تَضَمَّنَهُ وَالرُّجُوعُ إِلَيْهِ عِنْدَ الْمُشْكِلَاتِ

“Kemudian Allah تعالى memerintahkan untuk mengikutinya, yaitu dengan mengamalkan kandungannya, berhenti pada ketentuan-ketentuannya, serta kembali kepadanya ketika menghadapi berbagai persoalan.”

وَالْمُبَارَكُ هُوَ الثَّابِتُ الدَّائِمُ فِي ازْدِيَادٍ ، وَذَلِكَ مُشْعِرٌ بِبَقَائِهِ وَدَوَامِهِ

“Dan yang diberkahi adalah sesuatu yang tetap, terus-menerus, dan senantiasa bertambah; hal ini menunjukkan keberlangsungan dan kelanggengannya.

Oleh karena itu, mengikuti al-Qur’an dalam susunan kitab merupakan bentuk usaha mengamalkan apa yang Allah تعالى perintahkan dalam ayat ini, sebab ia merupakan kitab yang Allah تعالى turunkan dan penuh berkah, serta salah satu jalan untuk mendapatkan kasih sayang Allah تعالى .

2. Meneladani Nabi ﷺ

Alasan yang kedua ialah تَأَسِّيًا بِالنَّبِيِّ ﷺ "meneladani Nabi ﷺ". Pada penulisan surat-surat Beliau ﷺ senantiasa diawali dengan al-basmalah. Sebagaimana surat yang Beliau ﷺ kirimkan kepada penguasa Romawi, Heraklius, dalam riwayat disampaikan3:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الْحَسَنِ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ: أَخْبَرَنَا يُونُسُ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُتْبَةَ: أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ : أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ هِرَقْلَ أَرْسَلَ إِلَيْهِ فِي نَفَرٍ مِنْ قُرَيْشٍ وَكَانُوا تُجَّارًا بِالشَّأْمِ فَأَتَوْهُ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ: ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُرِئَ ، فَإِذَا فِيهِ: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُولِهِ ، إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ ، السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى ، أَمَّا بَعْدُ .

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Abu al-Hasan, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abdullah, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Yunus, dari az-Zuhri, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, bahwa Ibnu Abbas telah mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya, bahwa Heraklius mengutus seseorang kepadanya bersama beberapa orang dari Quraisy — dan mereka adalah para pedagang di negeri Syam — maka mereka pun mendatanginya.

Lalu ia menyebutkan kisah hadits tersebut. Ia berkata: kemudian Heraklius meminta didatangkan surat Rasulullah ﷺ, lalu surat itu dibacakan. Ternyata di dalamnya tertulis:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraklius, penguasa besar Romawi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amma ba‘du (adapun selanjutnya) …”

3. Beramal dengan hadits Nabi ﷺ

Alasan yang ketiga ialah عَمَلًا بِمَا وَرَدَ عَنْهُ النَّبِيّ ﷺ "beramal dengan hadits Nabi ﷺ". Hadits yang dimaksud ialah:

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ، لَا يُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ أقْطَع

"Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan Bismillahirrahmanirrahim, maka dia akan terputus"4

Makna lafazh أقْطَع ialah مَقْطُوْعُ الْيَدِّ أَو الْيَدَيْنِ “orang yang terpotong tangannya, atau kedua tangannya”. Hadits ini menggunakan gaya bahasa tasybih baligh, memulai urusan dengan tidak diawali al-basmalah diserupakan dengan orang yang terputus tangannya, maksudnya ialah

أَنَّهُ نَاقِصٌ قَلِيْلُ الْخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ

"Bahwa ia bersifat tidak sempurna, sedikit kebaikan dan keberkahannya"5

Dari hadits dapat dipahami bahwa إِنْ تَمَّ حِسًّا لَمْ يَتِمَّ مَعْنًا “secara zhahir perkaranya sempurna, tapi secara maknawi tidak sempurna”. Jadi, mafhum hadits ini ialah bila ingin meraih kesempurnaan pada suatu urusan maka mulailah dengan al-basmalah.

Dengan memulai penulisan kitab dengan al-basmalah artinya saya memulai penulisan kitab ini sambil memohon keberkahan dengan nama Allah (Yang Maha Pemurah Maha Penyayang) dan memohon pertolongan dengannya.

Untuk pembahasan lebih rinci mengenai tashrif dan makna lafazh al-basmalah, pembaca dapat merujuk tulisan berikut: Makna Tashrif Bismillahirrahmanirrahim .

Nilai Adab dalam Basmalah

Memulai penulisan, perkataan atau urusan penting lainnya dalam pandangan agama dengan al-Basmallah merupakan bagian dari adab. Ia merupakan:

  1. Pengakuan akan Kelemahan Diri dan Memohon Pertolongan Allah ﷻ

    Basmalah juga mengajarkan adab tadharru‘ (merendah). Seorang penuntut ilmu hendaknya mengakui keterbatasan akalnya dan menggantungkan keberhasilan hanya kepada pertolongan Allah ﷻ. Pertolongan Allah ﷻ merupakan sebab hakiki keberhasilan dan perubahan.

  2. Harapan Meraih Keberkahan dari Urusan yang Dikerjakan

    Seorang pelajar hendaknya tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga keberkahan. Sebab ilmu yang berkah meski sedikit lebih bermanfaat daripada ilmu yang banyak namun tercabut keberkahannya.

  3. Adab kepada Allah ﷻ

    Mendahulukan al-basmalah berarti mendahulukan adab kepada Allah ﷻ sebelum adab kepada ilmu, karena ilmu adalah karunia dari-Nya dan tidak akan bermanfaat kecuali dengan izin-Nya.

  4. Penjagaan Kesinambungan Amal hingga Akhir

    Memulai dengan basmalah juga merupakan harapan agar amal yang dimulai dengan baik dapat disempurnakan dengan baik, dijaga dari cacat maknawi, dan diberi akhir yang baik.

Penutup

Memulai dengan al-basmalah bukan sekadar kebiasaan lisan, tetapi adab yang menghadirkan makna penghambaan, keberkahan, dan pertolongan Allah ﷻ. Dengan adab inilah, sebuah amal yang tampak sederhana dapat bernilai besar dan berbuah kebaikan yang berkesinambungan.

Referensi

  1. Ibn ‘Asyur, at-Tahrir wa at-Tanwir, juz 8 hal. 178 - 179
  2. Atsir ad-Din al-Andalusiy, al-Bahr al-Muhith, juz 4 hal. 256
  3. Hr. al-Bukhariy, Shahih al-Bukhariy, jilid 8 hal. 58 nomor 6260
  4. Al-Khathib al-Baghdadiy, al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawiy, Dar al-Lu’luah, jilid 2 hal. 146 nomor 1224
  5. Abdullah Sirajuddin, Syarh al-Manzhumah al-Baiquniyyah, Maktabah Dar al-Falah, hal. 28