Nama - Nama Surah al-Fatihah

Mengulas nama-nama Surah Al-Fatihah dan keutamaannya berdasarkan tafsir ulama, hadits Nabi ﷺ, dan atsar sahabat.

Surah Al-Fatihah memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Al-Qur’an dan ibadah kaum muslimin. Ia bukan hanya menjadi pembuka mushaf dan shalat, tetapi juga dikenal dengan berbagai nama yang masing-masing mencerminkan keutamaan, fungsi, dan maknanya. Para ulama tafsir sejak generasi salaf hingga khalaf telah menjelaskan nama-nama Surah Al-Fatihah berdasarkan dalil Al-Qur’an, hadits Nabi ﷺ, serta atsar para sahabat dan tabi‘in. Artikel ini membahas secara ringkas dan sistematis nama-nama Surah Al-Fatihah beserta landasan riwayat dan penjelasan para ulama, agar pembaca memahami kedudukannya secara lebih utuh dan mendalam.

Setiap muslim membaca Surah Al-Fatihah berulang kali dalam shalatnya, namun tidak semua menyadari betapa luas makna dan kedudukan surah ini. Al-Fatihah tidak hanya berfungsi sebagai pembuka bacaan, tetapi juga memiliki banyak nama yang menunjukkan kemuliaan dan perannya dalam Al-Qur’an. Para ulama sejak generasi awal Islam telah menguraikan penamaan-penamaan tersebut dengan landasan dalil yang kuat.

Al-Fatihah sebagai Ummul Kitab Dan Fatihatul Kitab

وَتُسَمَّى أُمَّ الْكِتَابِ ، قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي أَوَّلِ التَّفْسِيرِ : وَسُمِّيَتْ أُمَّ الْكِتَابِ ؛ لِأَنَّهُ يُبْدَأُ بِكِتَابَتِهَا فِي الْمَصَاحِفِ ، وَيُبْدَأُ بِقِرَاءَتِهَا فِي الصَّلَاةِ .

Dan dinamakan “Ummul Kitab”. Al-Bukhari berkata pada awal kitab tafsir: Ia dinamakan Ummul Kitab karena penulisannya didahulukan dalam mushaf-mushaf Al-Qur’an, dan pembacaannya pun didahulukan dalam shalat.

وَأَخْرَجَ ابْنُ الضُّرَيْسِ فِي فَضَائِلِ الْقُرْآنِ عَنِ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ كَانَ يَكْرَهُ أَنْ يَقُولَ : أُمُّ الْكِتَابِ ، وَيَقُولُ : قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ وَلَكِنْ يَقُولُ : فَاتِحَةُ الْكِتَابِ .

Ibnu ad-Durais meriwayatkan dalam Fadha’il al-Qur’an dari Ayyub, dari Muhammad bin Sirin, bahwa ia tidak menyukai menyebutnya dengan istilah “Ummul Kitab”. Ia berkata: Allah ﷻ berfirman: “Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab”, namun ia lebih memilih menyebutnya dengan nama “Fatihatul Kitab”.

وَيُقَالُ لَهَا الْفَاتِحَةُ لِأَنَّهَا يُفْتَتَحُ بِهَا الْقِرَاءَةُ ، وَافْتَتَحَتِ الصَّحَابَةُ بِهَا كِتَابَةَ الْمُصْحَفِ الْإِمَامِ .

Dan ia disebut “Al-Fatiḥah” karena dengannya bacaan (Al-Qur’an) dibuka, dan para sahabat pun memulai penulisan Mushaf Imam dengan surah tersebut.

As-Sab‘ul Matsani

قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ فِي تَفْسِيرِهِ : وَصَحَّ تَسْمِيَتُهَا بِالسَّبْعِ الْمَثَانِي ، قَالُوا : لِأَنَّهَا تُثَنَّى فِي الصَّلَاةِ فَتُقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ . وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ لِأُمِّ الْقُرْآنِ : هِيَ أُمُّ الْقُرْآنِ ، وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي ، وَهِيَ الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ .

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: Penamaan surah ini dengan “As-Sab‘ul Matsaniy” adalah shahih. Mereka berkata: karena surah ini diulang-ulang dalam shalat, sehingga dibaca pada setiap rakaat. Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda tentang Ummul Qur’an: Ia adalah Ummul Qur’an, ia adalah As-Sab‘ul Matsaniy, dan ia adalah Al-Qur’an yang agung.

وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ فِي تَفْسِيرِهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : هِيَ أُمُّ الْقُرْآنِ ، وَهِيَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ ، وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي . وَأَخْرَجَ نَحْوَهُ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ فِي تَفْسِيرِهِ وَالدَّارَقُطْنِيُّ مِنْ حَدِيثِهِ ، وَقَالَ : كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ .

Ibnu Jarir meriwayatkan dalam tafsirnya dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: Ia adalah Ummul Qur’an, ia adalah Fatihatul Kitab, dan ia adalah As-Sab‘ul Matsaniy. Riwayat semisal ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya dan oleh Ad-Daraquthni dari hadits yang sama, dan ia berkata: seluruh perawinya adalah orang-orang yang terpercaya.

وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ عَنْ عَلِيٍّ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُمْ فَسَّرُوا قَوْلَهُ تَعَالَى : سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي [الْحِجْرِ : 87] بِالْفَاتِحَةِ .

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah bahwa mereka menafsirkan firman Allah ﷻ: “tujuh ayat yang diulang-ulang” (QS. Al-Hijr: 87) dengan Surah Al-Fatihah.

Nama Lain Surah Al-Fatihah Dan Maknanya

وَمِنْ جُمْلَةِ أَسْمَائِهَا كَمَا حَكَاهُ فِي الْكَشَّافِ سُورَةُ الْكَنْزِ ، وَالْوَافِيَةُ ، وَسُورَةُ الْحَمْدِ ، وَسُورَةُ الصَّلَاةِ .

Di antara nama-namanya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Kasysyaf, adalah: Surah Al-Kanz (surah perbendaharaan), Al-Wafiyah (yang mencukupi), Surah Al-Hamd, dan Surah Ash-Shalah.

وَقَدْ أَخْرَجَ الثَّعْلَبِيُّ أَنَّ سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ كَانَ يُسَمِّي فَاتِحَةَ الْكِتَابِ الْوَاقِيَةَ .

Ats-Tsa‘labi meriwayatkan bahwa Sufyan bin ‘Uyainah biasa menamai Fatihatul Kitab dengan sebutan Al-Waqiyah (yang melindungi).

وَأَخْرَجَ الثَّعْلَبِيُّ أَيْضًا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ أَنَّهُ سَأَلَهُ سَائِلٌ عَنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ خَلْفَ الْإِمَامِ ، فَقَالَ : عَنِ الْكَافِيَةِ تَسْألُ ؟ قَالَ السَّائِلُ : وَمَا الْكَافِيَةُ ! ؟ قَالَ : الْفَاتِحَةُ ، أَمَّا عَلِمْتَ أَنَّهَا تَكْفِي عَنْ سِوَاهَا وَلَا يَكْفِي سِوَاهَا عَنْهَا .

Ats-Tsa‘labi juga meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Yahya bin Abi Katsir bahwa ada seseorang bertanya kepadanya tentang membaca Al-Fatihah di belakang imam. Maka ia berkata: “Tentang Al-Kafiyah engkau bertanya?” Orang itu berkata: “Apakah Al-Kafiyah itu?” Ia menjawab: “Al-Fatihah. Tidakkah engkau tahu bahwa ia mencukupi dari selainnya, sedangkan selainnya tidak mencukupi darinya.”

وَأَخْرَجَ أَيْضًا عَنِ الشَّعْبِيِّ أَنَّ رَجُلًا اشْتَكَى إِلَيْهِ وَجَعَ الْخَاصِرَةِ ، فَقَالَ : عَلَيْكَ بِأَسَاسِ الْقُرْآنِ ، قَالَ : وَمَا أَسَاسُ الْقُرْآنِ ؟ قَالَ : فَاتِحَةُ الْكِتَابِ .

Ats-Tsa‘labi juga meriwayatkan dari Asy-Sya‘bi bahwa ada seorang laki-laki mengadukan kepadanya sakit pada bagian pinggang. Maka ia berkata: “Hendaklah engkau berpegang pada dasar Al-Qur’an.” Orang itu bertanya: “Apakah dasar Al-Qur’an itu?” Ia menjawab: “Fatihatul Kitab.”

وَأَخْرَجَ الْبَيْهَقِيُّ فِي الشُّعَبِ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ أَعْطَانِي فِيمَا مَنَّ بِهِ عَلَيَّ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ ، وَقَالَ : هِيَ مِنْ كُنُوزِ عَرْشِي وَأَخْرَجَ إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ فِي مُسْنَدِهِ عَنْ عَلِيٍّ نَحْوَهُ مَرْفُوعًا .

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Asy-Syu‘ab dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memberiku—di antara karunia-Nya kepadaku—Fatihatul Kitab.” Dan beliau bersabda: “Ia termasuk perbendaharaan dari ‘Arsy-Ku.” Ishaq bin Rahawaih juga meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ali dengan riwayat semisal secara marfu‘.

Jumlah Ayat Surah Al-Fatihah

وَقَدْ ذَكَرَ الدَّارَقُطْنِيُّ فِي تَفْسِيرِهِ لِلْفَاتِحَةِ اثْنَيْ عَشَرَ اسْمًا وَهِيَ سَبْعُ آيَاتٍ بِلَا خِلَافٍ كَمَا حَكَاهُ ابْنُ كَثِيرٍ فِي تَفْسِيرِهِ .

Ad-Daraquthnniy menyebutkan dalam tafsirnya tentang Al-Fatihah ada dua belas nama, dan surah ini terdiri dari tujuh ayat tanpa ada perbedaan pendapat, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

وَقَالَ الْقُرْطُبِيُّ : أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ عَلَى أَنَّ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ سَبْعُ آيَاتٍ إِلَّا مَا رُوِيَ عَنْ حُسَيْنٍ الْجُعْفِيِّ أَنَّهَا سِتٌّ وَهُوَ شَاذٌّ . وَإِلَّا مَا رُوِيَ عَنْ عَمْرِو بْنِ عُبَيْدٍ أَنَّهُ جَعَلَ إِيَّاكَ نَعْبُدُ آيَةً ، فَهِيَ عِنْدُهُ ثَمَانٍ ، وَهُوَ شَاذٌّ انْتَهَى

Al-Qurthubi berkata: Umat telah bersepakat bahwa Fatihatul Kitab terdiri dari tujuh ayat, kecuali riwayat dari Husain Al-Ju‘fi yang menyatakan enam ayat, dan pendapat ini syadz (menyimpang). Juga riwayat dari ‘Amr bin ‘Ubaid yang menjadikan ayat “iyyaaka na‘budu” sebagai satu ayat tersendiri, sehingga menurutnya berjumlah delapan ayat, dan ini pun syadz.

وَإِنَّمَا اخْتَلَفُوا فِي الْبَسْمَلَةِ كَمَا سَيَأْتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ .

Perbedaan pendapat itu hanya terjadi pada masalah basmalah, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah.

Dengan memahami berbagai nama Surah Al-Fatihah beserta penjelasan para ulama, kita dapat semakin menghayati kedudukannya sebagai inti Al-Qur’an dan ruh shalat. Banyaknya nama tersebut menunjukkan keluasan makna dan agungnya kedudukan surah yang selalu kita baca setiap hari.

Sumber: Kitab Tafsir Fath al-Qadir karya Muhammad bin Ali asy-Syaukaniy, penerbit Dar al-Ma’rifah.