سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِSaya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa selama di dunia memuliakan sulthan Allah, maka Allah تعالى akan memuliakannya pada hari kiamat kelak. Dan barangsiapa selama di dunia menghinakan sulthan Allah, maka Allah تعالى akan menghinakannya pada hari kiamat kelak."
Takhrij Hadits
Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnad al-Bashriyyin (9/4739) - Hadits Abi Bakrah - no. 20762; dari Muhammad bin Bakr, dari Humaid bin Mihran al-Kindiy, dari Sa'd bin Aus, dari Ziyad bin Kusaib al-'Adawiy, dari Abi Bakrah
Kedudukan Hadits
- 1. Muhammad, thabaqat 9, dinilai صدوق قد يخطئ oleh Ibn Hajar (at-Taqrib, 829), dan ثقة oleh adz-Dzahabiy (al-Kasyif, 4/89).
- 2. Humaid, thabaqat 7, dinilai ثقة oleh Ibn Hajar (at-Taqrib, 276), dan ثقة oleh adz-Dzahabiy (al-Kasyif, 2/326).
- 3. Sa'd, thabaqat 5, dinilai صدوق له أغاليط oleh Ibn Hajar (at-Taqrib, 368), dan ضعف oleh adz-Dzahabiy (al-Kasyif, 2/464). Ibn Hibban memasukkannya dalam ats-Tsiqat (6/377).
- 4. Ziyad, thabaqat 3, dinilai مقبول oleh Ibn Hajar (at-Taqrib, 347), dan وثق oleh adz-Dzahabiy (al-Kasyif, 2/435).
- 5. Abu Bakrah, yaitu Nufai' bin al-Harits bin al-Kildah, termasuk salah seorang sahabat Nabi ﷺ. Lebih dikenal dengan kunyah-nya (at-Taqrib, 1008).
Sanad hadits ini hasan, Sa'd dinilai صدوق adapun kedhabitannya tidak kuat, sehingga dikatakan له أغاليط . at-Tirmidziy menilai hadits Sa'd dari Ziyad : hasan gharib (Jami' at-Tirmidziy, 4/2224). Dhiya' ad-Din al-Maqdisiy menilai periwayatan Sa'd : isnadnya hasan (al-Ahadits al-Mukhtarah, no. 309, 310, 312, 313), dan dikatakan :
سعد بن أوس ضعفه الأزدي وهو محمد بن الحسين بن أحمد الموصلي تكلم فيه، فلا يقبل تضعيفه (الأحاديث المختارة، ٨/٢٥٧)
"Sa'd dinilai lemah oleh al-Azdiy, dan dia ialah Muhammad bin al-Husain bin Ahmad al-Mushiliy yang diperbincangkan (تكلم فيه), maka tidak diterima penilaian dhaif darinya".
Adapun tentang Ziyad telah disampaikan pada kajian hadits ke-14 dengan tema "Jangan Hina Pemimpin".
Catatan Pelajaran
1. Ungkapan : مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا
Redaksi من أكرم bermakna
رفَع شأنَه وفضّله، وأحسن معاملتَه
"meninggikan kedudukan dan keutamaannya, dan bermuamalah kepadanya dengan baik".
Adapun maksud dari سلطان الله ialah الحاكم "penguasa". Idhofah سلطان kepada الله menunjukkan pengkhususan (تخصيص) penguasa tersebut atas semua penguasa (سلاطين) yang lain di muka bumi. Ini sebagaimana pengkhususan بيت الله atas semua rumah (بيوت) di muka bumi. Dan berfaedah تشريف (menunjukkan kehormatan).
Pengkhususan سلطان الله berarti akad pengangkatan penguasa ini tidak seperti penguasa lain. Penguasa ini diangkat untuk :
- إﻗﺎﻣﺔ دين الله ﻭﺗﻨﻔﻴﺬ أحكامه "menegakkan din Allah dan hukum-Nya",
- توحيد صف المسلمين "menyatukan umat Islam",
- عمارة الأرض وسياسة الناس وفق شريعة الله "mengelola bumi dan mengatur manusia dengan syariat Allah".
Sehingga سلطان ini menjadi الدليل "petunjuk", البرهان "bukti" atas seluruh manusia tentang keadilan din Allah bagi manusia dan alam yang berada dalam naungan pengaturannya.
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ (سورة الحديد : 25 )
"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan al-Mizan supaya manusia dapat menegakkan keadilan"
Nabi ﷺ telah menunjukkan metode pengangkatan penguasa ini, model kepemimpinan dan pemerintahannya berdasarkan petunjuk Allah تعالى, dilanjutkan dengan khilafah rasyidah berdasarkan sunnah Nabi ﷺ tersebut, dikatakan
تكون خلافة على منهاج النبوة
"kemudian berlangsung kekhilafahan menurut metode kenabian" (Musnad Ahmad, 30/355 no. 18406)
berdasarkan kaedah أن الجمل وأشباه الجمل بعد النكرات صفات maka على منهاج النبوة merupakan sifat dari خلافة "khilafah" setelah era kenabian.
Aktivitas أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ dilakukan bukan karena zat atau pribadi سلطان , akan tetapi atas apa yang melekat padanya yaitu keterikatannya kepada Allah تعالى dan Nabi Muhammad ﷺ.
2. Ungkapan أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
menunjukkan balasan yang sama akan diperoleh pada hari kiamat. Yakni Allah تعالى akan memuliakannya dengan segala kebaikan pada hari kiamat.
الجزاء من جنس العمل
"balasan sesuai dengan jenis amal"
3. Ungkapan مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Redaksi مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ bermakna
نظره بعين الإهانة و أذله
"memandangnya dengan pandangan penghinaan dan merendahkannya"
Redaksi أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ merupakan jawab syarat yang bermakna أهانَه اللهُ بكلِّ نوعٍ مِن الإهانة "Allah تعالى akan menghinakannya dengan segala jenis penghinaan". Ini merupakan bentuk celaan, sehingga aktivitas أَهَانَ سُلْطَانَ الله dituntut secara syar'iy untuk ditinggalkan (طلب الترك).
Kesalahan penguasa di ruang publik, terkait muamalah, atau kebijakannya dalam urusan publik, bukan merupakan objek hinaan atau celaan, melainkan perkara yang akan diajukan kepada Mahmakah al-Mazhalim, dan termasuk wilayah muhasabah lil hukam bagi kelompok yang ada dalam masyarakat.
Penguasa yang akad pengangkatannya untuk menegakkan din Allah dan hukum-Nya, menyatukan kaum muslimin, mengelola bumi dan mengatur manusia dengan aturan dari Allah تعالى maka tidak layak untuk direndahkan, karena padanya ada keterikatan dengan Allah تعالى dan Rasul-Nya ﷺ. Adapun kesalahannya di ruang publik diselesaikan sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
Nas'aluLlaaha an-nushrah, wabiLlaahi at-taufiq wa al-hidayah
[ibn mukhtar]