Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (2/132 no. 1513) melalui sanad:
Abdullah bin Yusuf → Malik → Ibnu Syihab → Sulaiman bin Yasar → Ibnu ‘Abbas → Nabi ﷺ
1️⃣ Abdullah bin Yusuf, dinilai ثقة متقن oleh Ibn Hajar (at-Taqrib, 330), dan الحافظ oleh adz-Dzahabi (al-Kasyif, 1/610).
2️⃣ Malik bin Anas, dinilai رأس المتقنين oleh Ibn Hajar (at-Taqrib, 516), dan الإمام oleh adz-Dzahabi(al-Kasyif, 2/234).
3️⃣ Muhammad bin Muslim (Ibnu Syihab), dinilai متفق على جلالته وإتقانه oleh Ibn Hajar (at-Taqrib, 506), dan ﺃﺣﺪ اﻻﻋﻼﻡ oleh adz-Dzahabi (al-Kasyif, 2/219).
4️⃣ Sulaiman bin Yasar, dinilai ثقة فاضل oleh Ibn Hajar (at-Taqrib, 255), dan ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻓﻘﻬﺎء اﻟﻤﺪﻳﻨﺔ oleh adz-Dzahabiy (al-Kasyif, 1/465).
5️⃣ Ibnu ‘Abbas, termasuk sahabat Nabi ﷺ, dan dikatakan أحد المكثرين من الصحابة ، وأحد العبادلة من فقهاء الصحابة Salah satu perawi hadits terbanyak di kalangan sahabat, dan salah satu dari العبادلة (kelompok sahabat bernama Abdullah) yang terkenal sebagai ahli fikih. (at-Taqrib, 309).
Kesimpulan: Isnad hadits ini shahih, para perawinya terpercaya.
1️⃣ Realita Umat Hari Ini
منذ غزتنا الحضارة الغربية، وحكمت بلاد المسلمين بأنظمة الكفر صارت النساء غير المسلمات يخرجن شبه عاريات : مكشوفات الصدور والظهور والشعر والأذرع والسيقان. وصارت بعض نساء المسلمين يقلدنهن فيخرجن إلى السوق على هذا الوجه.
"sejak peradaban Barat menyerang kita dan negeri kaum Muslim diperintah dengan sistem kufur, para wanita nonmuslimah akhirnya keluar rumah dalam keadaan nyaris telanjang: tersingkap dada, punggung, rambut, lengan, dan betis. Akhirnya sebagian wanita Muslimah meniru mereka. Sebagian wanita Muslimah ini pun keluar rumah menuju pasar dalam keadaan seperti itu." (Nizham al-Ijtima'iy fil Islam, 55)
Kondisi ini layak disebut sebagai bencana yang menimpa umat Islam. Namun, umat harus tetap berpegang teguh pada kaedah syar'iy:
الْحَرَامُ لَا يُصْبِحُ حَلَالًا إِذَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى، وَالْحَلَالُ لَا يُصْبِحُ حَرَامًا إِذَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى
"Yang haram tidak menjadi halal hanya karena bencana yang merata, dan yang halal tidak menjadi haram hanya karena bencana yang merata." (Nizham al-Ijtima'iy fil Islam, 57)
di tengah kondisi bencana ini dan setiap pria muslim adakalanya keluar rumah untuk berinteraksi, baik dalam jual beli, sewa-menyewa, bekerja dan aktivitas lainnya yang dharuriy (urgen) bagi kehidupan, maka untuk dapat berpegang pada kaedah syar'iy yang berlaku, tentu diperlukan solusi syar'iy saat berbicara dengan wanita yang tersingkap auratnya. Dan hadits Nabi ﷺ dalam bahasan ini merupakan salah satu solusi untuk persoalan tersebut.
2️⃣ Hadits ini menguatkan pandangan kita bahwa:
كان النَّبيُّ ﷺ يُعَلِّمُ أصحابَه أحكامَ الدِّينِ بالقَولِ والفِعلِ والأمرِ والنَّهيِ والتوجيهِ، في كُلِّ المواقِفِ والمناسَباتِ التي تستدعي ذلك
"Nabi ﷺ mengajarkan para sahabatnya hukum-hukum Islam melalui ucapan, perbuatan, perintah, larangan, dan bimbingan, di setiap situasi dan momen yang memerlukannya."
dalam riwayat lengkap hadits ini, diketahui bahwa Nabi ﷺ tidak hanya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Wanita yang datang pada Beliau ﷺ, tetapi juga merespon sikap al-Fadhl yang memandang Wanita tersebut. Respon Beliau ﷺ ini menunjukkan kepeduliannya terhadap keadaan dan urusan umat Islam. Dan sikap peduli ini wajib diteladani umat Islam. Sebagaimana dalam hadits
ﻣﻦ ﻻ ﻳﻬﺘﻢ ﺑﺄﻣﺮ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﻠﻴﺲ ﻣﻨﻬﻢ
"Barangsiapa tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan bagian dari mereka." (Majma' az-Zawaid, 1/87 no. 294)
3️⃣ Ungkapan:
كَانَ الْفَضْلُ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
"Ketika Al-Fadhl membonceng Nabi ﷺ ..."
Al-Fadhl ialah saudara Abdullah bin 'Abbas. Redaksi رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ bermakna راكِبًا خلفَه على الدابَّة "Nabi ﷺ duduk di belakang al-Fadhl di atas tunggangan". Dengan metode جمع الطروق "menghimpun berbagai jalur periwayatan", maka diketahui:
- 📒 peristiwa ini terjadi pada Haji Wada' (al-Bukhariy 3/18 no. 1853-1854)
- 📒 pada hari ke-10 Dzulhijjah, yawm an-nahr, hari 'id al-Adha (al-Bukhariy 8/51 no. 6228)
- 📒 pada peristiwa ini, Nabi ﷺ berhenti sejenak untuk membimbing dan merespon berbagai pertanyaan masyarakat saat itu (at-Tirmidziy 2/221 no. 885) termasuk Wanita yang disebut dalam hadits di tulisan ini.
al-Fadhl bin 'Abbas disifati رَجُلًا وَضِيئًا "lelaki yang tampan" (riwayat al-Bukhariy no. 6228).
4️⃣ Ungkapan:
فَجَاءَتِ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ
"tiba-tiba datang seorang wanita dari suku Khats'am sehingga Al-Fadhl memandangnya dan wanita itupun memandang kepadanya"
Khats'am ialah kabilah yamaniyyah (al-Mauwsu'ah al-Yamaniyyah, 2/1253-1254), wanita ini dikatakan وَضِيئَةٌ "cantik" (riwayat al-Bukhariy no. 6228), dengan kondisi ini, didapati bahwa
طَفِقَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا، وَأَعْجَبَهُ حُسْنُهَا، فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا
"segera al-Fadhl memandangi wanita tersebut, ia kagum dengan kecantikannya, ketika Nabi ﷺ menoleh ke arah al-Fadhl, dia masih saja memandangi wanita tersebut" (riwayat al-Bukhariy no. 6228).
5️⃣ Ungkapan:
وَجَعَلَ النَّبِيُّ ﷺ يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الْآخَرِ
"maka Nabi ﷺ mengalihkan wajah Al-Fadhl ke arah yang lain."
Redaksi يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ "Nabi ﷺ mengalihkan wajah Al-Fadhl" menunjukkan
- 📒 Keharusan memalingkan pandangan dari melihat wanita nonmahrom tanpa sebab syar'iy.
- 📒 Keharusan memalingkan pandangan dari melihat wanita nonmahrom untuk menghindari fitnah.
al-Fadhl tidak memiliki alasan syar'iy untuk melihat wajah Wanita tersebut, dan khawatir timbul fitnah atau masuknya godaan syaithan saat memandangnya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengubah kemungkaran tersebut dengan tangan Beliau ﷺ. Dikatakan mungkar, karena meninggalkan kewajiban memalingkan pandangan dari melihat wanita nonmahrom tanpa sebab syar'iy atau kewajiban menghindari fitnah.
al-Mawardi asy-Syafi'iy menjelaskan
ﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻟﻐﻴﺮ ﺳﺒﺐ ﻣﻨﻊ ﻣﻨﻪ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻗﻞ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻳﻐﻀﻮا ﻣﻦ ﺃﺑﺼﺎﺭﻫﻢ ﻭﻳﺤﻔﻈﻮا ﻓﺮﻭﺟﻬﻢ) {اﻟﻨﻮﺭ: 30) . ﻭﻣﻨﻌﺖ ﻣﻦ اﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻪ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻭﻗﻞ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﺎﺕ ﻳﻐﻀﻀﻦ ﻣﻦ ﺃﺑﺼﺎﺭﻫﻦ ﻭﻳﺤﻔﻈﻦ ﻓﺮﻭﺟﻬﻦ) {اﻟﻨﻮﺭ: 31) ، ﻭﻷﻥ ﻧﻈﺮ ﻛﻞ ﻭاﺣﺪ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺇﻟﻰ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﺩاﻋﻴﺔ ﺇﻟﻰ اﻻﻓﺘﺘﺎﻥ ﺑﻪ ﺭﻭﻱ ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﷺ ﺻﺮﻑ ﻭﺟﻪ اﻟﻔﻀﻞ ﻭﻛﺎﻥ ﺭﺩﻳﻔﻪ ﺑﻤﻨﻰ ﻋﻦ اﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ الخثعمية، ﻭﻛﺎﻧﺖ ﺫاﺕ ﺟﻤﺎﻝ ﻭﻗﺎﻝ: ﺷﺎﺏ ﻭﺷﺎﺑﺔ، ﻭﺃﺧﺎﻑ ﺃﻥ ﻳﺪﺧﻞ اﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ.
"Jika tanpa sebab syar'iy, maka tidak boleh karena Allah تعالى berfirman: ‘Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka’ (An-Nur: 30). Dan kaum wanita juga dilarang: ‘Dan katakanlah kepada para wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka’ (An-Nur: 31). Karena pandangan ke lawan jenis dapat menimbulkan fitnah. Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ memalingkan wajah Al-Fadhl, yang saat itu membonceng Beliau di Mina, dari memandang wanita Khats’amiyah yang memiliki paras cantik. '(Ini) pemuda dan (itu) pemudi, aku khawatir setan akan masuk di antara mereka'." (al-Hawiy al-Kabir, 9/35)
6️⃣ Adapun memandang ke arah aurat (selain wajah, tangan dan pergelangan tangan) maka tidak diperbolehkan, sebagaimana dalam hadits
إنَّ الْجَارِيَةَ إذَا حَاضَتْ لَمْ يَصْلُحْ أنْ يُرَى مِنْهَا إلَّا وَجْهُهَا وَيَدَاهَا إلَى الْـمَفْصِل
Rasulullah ﷺ bersabda, "sesungguhnya seorang perempuan jika datang haidh, tidak boleh dilihat darinya kecuali wajah dan kedua tangan hingga pergelangannya" (Hr. Abu Daud)
Redaksi لم يصلح أن يرى منها menunjukkan keseluruhan tubuh wanita tidak boleh dilihat kecuali wajah dan kedua tangan hingga pergelangannya. Adapun memandang ke arah yang boleh disertai catatan: ada alasan syar'iy dan tidak timbul fitnah. Sementara melihat ke arah aurat maka haram.
وفي البخاري:" وقال سعيد بن أبي الحسن للحسن إن نساء العجم يكشفن صدورهن ورءوسهن؟ قال: اصرف بصرك، يقول الله تعالى:" قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم 30" وقال قتادة: عما لا يحل لهم،" وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن" [النور: 31] خائنة الأعين [من «2»] النظر إلى ما نهي عنه
Dalam Shahih Bukhari disebutkan Said bin Abi al-Hasan berkata kepada Al-Hasan bahwa wanita nonmahram telah menyingkapkan dada dan kepala mereka. Beliau berkata, "Palingkan penglihatanmu, karena Allah تعالى berfirman, "Katakan kepada orang-orang beriman wajiblah atas mereka untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluan mereka. Qatadah berkata (memalingkan pandangan) dari yang tidak halal. (Tafsir al-Qurthubiy, 12/222; Fath al-Bariy, 11/9)
hal ini berlaku bagi wanita muslimah maupun nonmuslimah, sebab redaksi الْجَارِيَةَ pada riwayat Abu Dawud merupakan redaksi umum. Adapun redaksi لَمْ يَصْلُحْ أنْ يُرَى مِنْهَا , untuk menafikan pandangan صلح أن يرى منها "boleh dilihat darinya" maka dikatakan لم يصلح "tidak boleh...", dan penafian ini berfaedah مستمرا لم ينقطع "kontinu tidak terputus", artinya senantiasa tidak boleh dilihat darinya (auratnya) di berbagai keadaan, baik ketika di pasar, bertamu di rumah yang ada wanita nonmahramnya, saat berdiskusi, di kantor, di sekolah, dll.
Semoga Allah تعالى menolong kaum Muslimin untuk menjaga pandangan, menegakkan ketaatan, dan menjauhi maksiat.
نسأل الله النصرة، وبالله التوفيق والهداية
[ibn mukhtar]
